Opini  

Duka WNI di Kamboja: Asa Hilang, Derita Tak Terbilang

Duka WNI di Kamboja Asa Hilang, Derita Tak Terbilang.webp

Oleh: Budi Sudarman

“Pupus sudah harapan indah demi membawa keluarga sejahtera. Asa hilang, derita tak terbilang”

Itulah ungkapan duka WNI di Kamboja. Akibat dampak razia dan penangkapan bos Scammer (penipuan berbasis online) dan Judi Online di Kamboja berimbas kepada para pekerja yang terjebak dalam lintas perdagangan manusia. Paspor sebagai identitas diri dan gaji yang seharusnya mereka terima menjadi awal mula petaka.

Pupus sudah harapan indah demi membawa keluarga sejahtera. Sebanyak 350 WNI kini bernasib merana pascaoperasi penegakan hukum oleh otoritas setempat dalam memerangi aksi kriminal berbasis teknologi.

Kegiatan Judi Online dan Scammer yang beraktivitas di Kamboja akhirnya mendapat sorotan tajam dari dunia internasional dan pegiat kemanusiaan, dengan memberi tekanan diplomatik kepada pemerintah Kamboja.

Duka WNI di Kamboja

Adanya penyiksaan dan perdagangan organ manusia tanpa melalui pembiusan kerap menghiasi laman berita dan jurnal internasional.

Oleh pihak KBRI, para WNI saat ini dikarantina dan ditampung di Cargo Parking Lot, Russian Federation Blvd (110) dekat Sangkat Kakab, Phnom Penh, Kamboja. Tentu ini menjadi persoalan yang sangat serius bagi pihak KBRI untuk mengatasi persoalan anak bangsa yang terjebak pasrah tak berdaya.

Bangunan karantina tersebut merupakan gudang dengan halaman yang begitu luas, namun terbatas dalam hal kamar mandi dan toilet. Karena memang peruntukannya bukan untuk menampung orang. Dan di bangunan ini pula orang-orang dari berbagai negara yang terjebak rayuan para sindikat ditempatkan.

“Kami sudah 10 hari di sini, hidup dengan penuh keterbatasan mulai dari sanitasi MCK, makan dan tidur, kami mohon sekali agar pemerintah membantu kami untuk keluar dari sini, kami tidak punya uang”
ungkap Dewi (43) kepada awak media ini melalui percakapan via telepon pada Rabu (28/1/2026).

Bersama 300-an WNI lainnya Dewi mencoba peruntungan mengadu nasib bekerja sebagai koki menyiapkan makanan untuk para pekerja yang berasal dari China, Bangladesh, Vietnam dan Indonesia dan sebanyak 75% di lokasi karantina adalah warga dari Provinsi Sumatera Utara.

Duka WNI di Kamboja

“Awalnya oleh pihak KBRI kami diberi bantuan makan 3 kali sehari, namun saat ini hanya 2 kali sehari itu pun kadang tak mencukupi,” ungkap Dewi.

Jual beli manusia di era modern dan digital seperti sekarang ini ternyata sama dengan kisah dahulu kala, seperti kisah Kunta Kinte yang ditayangkan dalam mini seri Roots, anak remaja Afrika yang diculik dijejalkan dalam kapal berhimpitan dan saling berdesakan hanya untuk menggeser badan pun sangat sulit.

Kunta Kinte adalah wajah perbudakan yang mengisi Benua Amerika sama halnya dengan Dewi demi merengkuh masa depan yang lebih baik namun keberuntungan itu tak selalu ada.

Itulah Duka WNI kita di Kamboja. asa hilang derita tak terbilang. Harapan indah demi membawa keluarga sejahtera, pupus sudah. ***