Ragam  

Manufaktur Energi Terbarukan di Asia Tenggara Bisa Hasilkan 90-100 Miliar Dolar AS pada 2030

Manufaktur Energi Terbarukan di Asia Tenggara Bisa Hasilkan 90-100 Miliar Dolar AS pada 2030
Manufaktur Energi Terbarukan. (Foto: Ist)

Pengumuman ini didasarkan pada kolaborasi awal tahun ini antara African Climate Foundation, Bloomberg Philanthropies, ClimateWorks Foundation, dan Sustainable Energy for All untuk menerbitkan Africa Renewable Energy Manufacturing: Peluang dan Kemajuan, serta meluncurkan Africa Renewable Energy Manufacturing Initiative untuk mendorong investasi dan memobilisasi tindakan dengan negara-negara mitra, untuk meningkatkan kemampuan manufaktur energi terbarukan di negara-negara Afrika.

“Seperti yang sering kami katakan di ADB, kemenangan atau kekalahan dalam pertempuran melawan perubahan iklim akan ditentukan di Asia dan Pasifik. Lini depan yang menentukan dalam pertempuran itu adalah Asia Tenggara.

Penelitian ini menunjukkan adanya harapan dari manufaktur energi terbarukan – dengan dukungan kebijakan, teknis, dan pembiayaan – dalam membantu negara-negara berkembang di kawasan ini untuk beralih dari energi berbasis batu bara, sambil menurunkan emisi karbon, memperluas kemampuan industri lokal, memacu penciptaan lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang,” ujar Ramesh Subramaniam, Direktur Jenderal dan Kepala, Sectors Group, Asia dan Pasifik, Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank).

Sementara itu, Program Lingkungan, Bloomberg Philanthropies, Antha Williams mengatakan, energi terbarukan untuk berkontribusi pada penyebaran energi terbarukan global, sekaligus mencapai pertumbuhan ekonomi dan memitigasi dampak perubahan iklim.

“Laporan ini membuktikan bagaimana peningkatan investasi sektor swasta ke sektor manufaktur energi terbarukan lokal, memperkuat kolaborasi rantai nilai regional, dan menyatukan pemangku kepentingan utama akan menciptakan lapangan kerja, meningkatkan PDB, serta membantu negara-negara Asia Tenggara mencapai tujuan iklim mereka,” sebut Antha Williams.

Helen Mountford, Presiden dan CEO, ClimateWorks Foundation mengatakan, Industri energi ramah lingkungan sudah menjadi peluang pertumbuhan yang sangat besar, dan perlu ditingkatkan dengan lebih cepat lagi supaya dapat mencapai netralitas karbon secara global pada tahun 2050.

“Asia Tenggara yang merupakan rumah bagi seperempat populasi dunia, memiliki posisi yang baik untuk menjadi pemimpin global dalam manufaktur energi terbarukan dengan lingkungan bisnisnya yang dinamis, dan sumber daya manusia yang besar.

Dengan demikian, kawasan ini dapat meningkatkan pasokan solusi energi terbarukan yang terjangkau dan andal bagi masyarakat serta komunitas di Asia Tenggara dan di seluruh dunia, serta menciptakan peluang kerja baru secara lokal,” kata Helen Mountford.

Sementara itu CEO dan Perwakilan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Sustainable Energy for All mengatakan, dengan mengembangkan kemampuan manufaktur energi terbarukan, negara-negara Asia Tenggara dapat meningkatkan PDB, menciptakan lapangan kerja, dan mendekarbonisasi sistem energi, berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi serta kemajuan iklim.

“Laporan ini menyoroti bagaimana negara-negara di kawasan ini dapat membangun industri lokal yang kuat, yang akan berkontribusi terhadap masa depan yang sejahtera dan berkelanjutan, ” demikian kata Damilola Ogunbiyi yang juga Wakil Ketua UN-Energy. * B1N/Ril