Deliserdang-Beritasatunews.id | Mengoptimalkan pengolahan limbah kulit buah-buahan seperti jeruk, nanas, pisang, mangga, buah naga, dan alpukat, dengan teknologi Eco-Enzim ternyata memberikan banyak manfaat besar bagi masyarakat.
Beberapa manfaat tersebut seperti menetralkan suhu panas ruangan, sebagai pembersih serbaguna seperti pembersih lantai, kamar mandi, membunuh bakteri jahat, menghilangkan bau, untuk mencuci sayur dan buah, meredakan luka, serta mengembalikan unsur hara tanah yang hilang sehingga tanah menjadi subur.
limbah kulit buah-buahan seperti jeruk, nanas, pisang, mangga, buah naga, alpukat bila tidak diolah dan dibuang begitu saja, akan menghasilkan gas yang dapat menimbulkan efek rumah kaca, yang menyumbang kerusakan lapisan Ozon di atmosfer bumi, sehingga panas matahari tidak terserap.
Melalui metode mengoptimalkan pengolahan limbah kulit buah-buahan lewat Eco-Enzim tadi, ternyata memberikan begitu banyak manfaat besar untuk kehidupan.
Teknologi Eco-Enzim yang penuh manfaat bagi kehidupan umat manusia pertama kalinya dikembangkan oleh seorang peneliti dari Thailand, Dr. Rosukon Poompanvong, dan kini teknologi itu sudah menyebar ke penjuru dunia.
Badan Lingkungan Hidup Dunia PBB (UNEP) pun akhirnya memberikan rekomendasi penggunaan teknologi Eco-Enzim, dan mengampanyekan ke seluruh dunia apa dan bagaimana tentang teknologi tersebut.
Lewat Relawan Dunia ECO Enzim (RDEE) Medan-Deliserdang Region Sumatera Utara pada Selasa (23/9/2025) mengadakan pelatihan pembuatan ECO Enzim yang berlokasi di JS Farm Jalan Mekatani No. 1 Marindal Satu, Kecamatan Patumbak, Kabupaten Deliserdang.
Acara dibuka tentang apa itu ECO Enzim dan manfaatnya bagi kehidupan manusia, dan bagaimana teknologi cara pembuatannya yang selanjutnya dilakukan praktik pembuatan.
Para peserta yang hadir begitu antusias mengikuti kegiatan tersebut, yang berasal dari kalangan mahasiswa dari Akademi Kesehatan Deli Husada, Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), para relawan ECO Enzim, perwakilan dari kelompok tani, Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) sebuah organisasi resmi lintas agama di bawah naungan Kemenag, dan staf dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
“Kami hadir di pelatihan ini sesuai arahan dari Kementerian Agama dalam hal ini Menteri Agama (Menag) Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA yang mencanangkan program kerja Asta Protas, 8 Program Prioritas yang di antaranya ECO Teologi,” ungkap Nunung.
Sementara Ketua IPARI Kemenag Kota Medan, Marasakti Dalimunthe mengatakan, karena Kementerian Agama punya program ECO Teologi, maka kami dari penyuluh agama ikut ambil bagian juga untuk menyukseskan program tadi yang saat ini sedang kami galakkan di Kota Medan, dan Provinsi Sumut adalah program Rawat Bumi atau Cinta Bumi, Zero Waste dan ECO Enzim.
“Masih banyak lagi turunan produk dari Eco-Enzim dengan penambahan jenis bahan tumbuhan dan rempah tertentu, sehingga mampu menggantikan jenis insektisida berbahan kimia,” ungkap Drh. Djodi Singgih selaku pembina di Relawan Dunia ECO Enzim.
“Saat ini yayasan kami sedang mendaftar ke badan PBB dengan kegiatan yang berbasis lingkungan hidup, sehingga kegiatan kami akan lebih luas jangkauannya”.
“Untuk pembuatan ECO Enzim lewat bahan limbah buah-buahan, kita butuh bahan dengan perbandingan 1:3:10, Molase dari gula aren atas tetes gula tebu 1 Kg : 3 Kg limbah kulit buah : 10 liter air”.
“Selanjutnya kita potong kecil-kecil, kalau untuk dalam jumlah besar kita cincang pakai mesin penghancur lalu kita campur di sebuah wadah tong yang tertutup rapat lalu kita aduk merata.
Kemudian kita tutup selama kurun waktu 3 bulan agar fermentasi bakteri menghasilkan kualitas yang sempurna, yang selanjutnya digunakan untuk berbagai keperluan,” pungkasnya. * B1N-BS







