Batu Bara-Beritasatunews.id | UPT Sekolah Dasar Negeri (SDN) 5 Sei Balai menggelar kegiatan salat gaib dan doa bersama sebagai bentuk kepedulian terhadap korban tragedi robohnya bangunan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khozny di Sidoarjo, Jawa Timur.
Kegiatan salat gaib dan doa bersama SDN 5 Sei Balai ini dilaksanakan pada Kamis (9/10/2025) di halaman sekolah yang berlokasi di Jalan Pendidikan, Desa Sei Balai, Kecamatan Sei Balai, Kabupaten Batu Bara.
Kepala Sekolah UPT SDN 05 Sei Balai, Budianto, S.Pd, mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan wujud empati terhadap para korban yang tertimpa musibah di pondok pesantren.
“Kegiatan ini kami lakukan untuk saudara-saudara kita yang terkena musibah. Saat kejadian, para santri sedang belajar dan tertimbun reruntuhan bangunan,” jelas Budianto di sela kegiatan.
Budianto menambahkan, berdasarkan informasi yang diterima, terdapat 67 santri yang meninggal dunia akibat insiden tersebut.
“Walaupun mereka jauh di sana, kami tetap mendoakan agar seluruh korban mendapat tempat terbaik di sisi Allah Swt. Sejak dini, kami ingin menanamkan nilai kepedulian dan empati kepada para siswa terhadap tragedi kemanusiaan yang terjadi,” ujarnya.
Saat ini, SDN 05 Sei Balai memiliki 124 siswa dengan 7 rombongan belajar (Rombel). Namun, kegiatan belajar mengajar di sekolah tersebut masih menghadapi kendala fasilitas.
“Kondisi sekolah kami masih kekurangan mebelair. Ada siswa yang harus belajar bertiga di satu meja, dan beberapa ruang kelas juga mengalami kerusakan pada plafon, sehingga kegiatan belajar sedikit terganggu,” tambahnya.
Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Batu Bara, Wali Wala Sagala, S.Pd, M.H, saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, menyampaikan apresiasi terhadap kegiatan tersebut.
“Kami sangat mendukung kegiatan seperti ini. Selain menumbuhkan nilai keagamaan, hal ini juga menjadi pendidikan karakter agar siswa peduli terhadap sesama,” jelasnya.
Di kesempatan yang sama, Muhammad Fari, S.Pdi, turut menyampaikan bahwa kegiatan doa bersama ini menjadi sarana edukasi bagi siswa.
“Kami ingin mengajarkan kepada mereka pentingnya mendoakan saudara yang sedang tertimpa musibah, agar rasa empati dan solidaritas selalu tumbuh,” katanya.
Acara ditutup dengan makan bersama yang dibawa oleh para siswa dan siswi, sebagai bentuk kebersamaan dan rasa syukur setelah kegiatan doa dan salat gaib selesai dilaksanakan. * B1N-Sudarno







