Menurut Perovic, terbakarnya lubang gas ini merupakan alternatif yang praktik.
“Membakar 15.000 atau 16.000 meter kubik per tahun atau sekitar empat kali yang digunakan Swiss setahun, bukan apa-apa bagi mereka. Jadi, daripada menggunakannya dengan menyalurkan lewat pipa dan harus membangun infrastruktur, mereka memutuskan untuk membakarnya,” katanya lagi.
Di sisi lain, Stefan Green, seorang pakar mikrobiologi yang ikut dalam ekspedisi bersama Kourounis mengatakan, melepaskan metana tanpa kendali merupakan satu hal buruk. Jadi membakarnya merupakan satu hal yang logis.
Membakar gas menghasilkan karbon dioksida, namun membakar metana lebih bahaya lagi. Praktik ini biasa dilakukan di negara-negara seperti Irak, Iran atau Amerika Serikat.
“Apapun itu, kawah itu terus terbakar. Sayangnya, masalah ini belum juga terungkap sampai hari ini,” kata Perovic.
Dalam 10 tahun terakhir, hanya sejumlah penjelajah yang mencoba melihat dari dekat kobaran api di gurun pasir ini.
Kawah metana yang berkobar ini menjadi salah satu daya tarik wisata di negara yang hanya dikunjungi sekitar 6.000 wisatawan mancanegara setahun.
Gurun Pasir Karakum ini menarik perhatian para penjelajah walaupun sulit untuk menuju kawah.
Tetapi penjelajah asal Kanada, George Kourounis menggambarkan pengalamannya luar biasa.
“Berdiri dengan baju pelindung khusus dan terlihat seperti astronot dan dikelilingi lingkaran api, pengalaman itu adalah pengalaman dunia lain di Bumi,” katanya.







