Deliserdang-Beritasatunews.id | Sebuah aset bersejarah sekaligus infrastruktur vital bagi warga Dusun VI, Desa Patumbak Kampung, Kecamatan Patumbak, Kabupaten Deliserdang, kini berada di ambang kehancuran. Jembatan Titi Gantung di atas aliran Sungai Seruai, yang memiliki rekam jejak sejarah sejak masa penjajahan Jepang, kondisinya kini sangat memprihatinkan, rusak parah, dan dikhawatirkan nyaris putus atau runtuh sewaktu-waktu jika tidak segera ditangani.
Kondisi jembatan yang mengkhawatirkan ini terlihat jelas dari struktur utamanya. Tali kawat baja atau sling besi yang berfungsi sebagai penahan beban sekaligus penguat utama gantungan jembatan tersebut diketahui sudah putus dan hilang sama sekali. Akibatnya, tidak ada lagi kekuatan yang menopang bangunan jembatan tersebut.
Lantai pijakannya pun sudah banyak yang keropos dan copot, sehingga setiap kali ada orang yang melintas, jembatan itu berguncang hebat dan miring ke samping, menimbulkan ketakutan bagi siapa saja yang melewatinya.
Melihat kondisi yang semakin hari semakin kritis ini, masyarakat setempat menyampaikan harapan besar dan mendesak Pemerintah Kabupaten Deliserdang melalui dinas terkait untuk segera turun tangan melakukan renovasi besar-besaran atau pembangunan ulang. Warga menilai, keberadaan jembatan ini sangat penting dan tidak bisa dibiarkan rusak begitu saja karena menyangkut keselamatan nyawa dan kelancaran ekonomi warga.
Abdul, salah satu tokoh masyarakat sekaligus warga setempat yang ditemui awak media di lokasi, Sabtu (16/5/2026), mengungkapkan rasa kecewa sekaligus keprihatinan mendalam. Menurut pengakuannya, jembatan bersejarah ini sama sekali belum pernah tersentuh perawatan, perbaikan, atau pemeliharaan sedikit pun, baik dari pihak pemerintah desa, kecamatan, hingga ke tingkat kabupaten.
“Jembatan ini nyaris putus dan rusak parah. Yang menjadi penahan utamanya saja tali slingnya sudah tidak ada lagi, sudah putus dan hilang entah ke mana. Artinya, tidak ada lagi kekuatan yang menahan jembatan ini. Ini sangat berbahaya. Yang paling disayangkan, seingat kami warga di sini, jembatan ini tidak pernah dirawat sama sekali. Mulai dari zaman dulu, zaman penjajahan Jepang konon jembatan ini sudah ada, tapi sampai sekarang pemerintah dari tingkat desa, kecamatan, sampai kabupaten belum pernah menyentuhnya untuk diperbaiki,” ungkap Abdul dengan nada cemas.
Padahal, lanjut Abdul, keberadaan jembatan gantung ini memiliki peran yang sangat vital dan sangat dibutuhkan oleh seluruh lapisan masyarakat, khususnya para petani. Jembatan ini merupakan akses jalan pintas terdekat dan terpendek yang menghubungkan Desa Patumbak Kampung menuju Desa Marindal Satu. Jika jembatan ini putus atau ditutup karena bahaya, maka warga harus menempuh perjalanan memutar jauh hingga berpuluh kali lipat lebih lama dan memakan biaya transportasi yang lebih besar.
“Jembatan ini adalah jalan potong paling dekat. Kalau lewat sini, jaraknya sangat dekat. Tapi kalau harus memutar, warga harus jalan jauh sekali. Ini sangat merugikan kami semua. Terutama saya sangat prihatin melihat nasib para petani kita di Dusun VI ini. Setiap hari mereka harus ke ladang dan ke kebun, mau tidak mau harus lewat jembatan ini. Mereka terpaksa melintas dengan sangat berhati-hati, pelan-pelan, penuh rasa takut, karena tahu kondisinya sudah nyaris putus dan bisa runtuh kapan saja,” tambahnya.
Oleh sebab itu, Abdul mewakili seluruh warga Dusun VI Desa Patumbak Kampung memohon kepada pemerintah daerah agar tidak menutup mata. Mereka berharap langkah cepat dan nyata segera diambil demi keselamatan masyarakat dan agar sejarah jembatan ini tetap lestari serta bermanfaat bagi kemajuan ekonomi warga sekitar. * B1N-Nardi







