Belum Duduk Jadi Kades, Ubudiah Calon Nomor Urut 5 Patumbak Kampung Curi Hati Warga

Tekad Pastikan Bantuan Tepat Sasaran & Junjung Kepedulian Sosial

Deliserdang-Beritasatunews.id | Menjelang pesta demokrasi pemilihan kepala desa (Pilkades) Desa Patumbak Kampung, Kecamatan Patumbak, Kabupaten Deliserdang, yang dijadwalkan digelar Juni 2026 mendatang, suasana politik kian hangat seiring gencarnya sosialisasi dan pendekatan langsung ke masyarakat. Para calon pemimpin desa turun ke akar rumput, mendengar aspirasi, serta memaparkan visi-misi yang akan mereka perjuangkan jika diberi amanah memimpin.

Di tengah hiruk-pikuk persaingan itu, sosok Ubudiah – calon nomor urut 5 – mencuri perhatian dan menyentuh hati banyak warga lewat langkah nyata yang penuh empati. Bukan dengan janji manis semata, melainkan lewat kunjungan kemanusiaan yang menyentuh sisi kemanusiaan, tepatnya ke rumah warga yang hidup dalam kesulitan di Dusun VI Gang Ceria, Kamis (30/04/2026).

Nama Ubudiah tak asing di dunia pelayanan publik. Ia memiliki rekam jejak panjang dan pengalaman matang di pemerintahan, pernah menjabat sebagai Lurah di berbagai wilayah Kota Medan, hingga terakhir bertugas sebagai Lurah Tanjung Selamat, Kecamatan Medan Tuntungan. Pengalaman puluhan tahun melayani rakyat ini terasa jelas dalam setiap sikap dan tutur katanya: hadir tanpa jarak, merakyat, dan sangat peka terhadap derita sesama.

Dalam kunjungan yang penuh haru itu, Ubudiah mendatangi kediaman Siti Ayun (60 tahun), seorang ibu renta yang kini hidup dalam keterbatasan fisik yang berat. Salah satu tangannya terpaksa diamputasi akibat penyakit tumor yang dideritanya bertahun-tahun, membuatnya tak bisa beraktivitas layaknya orang normal. Terbaring lemah di ruang tamu rumah sederhananya, Siti Ayun menumpahkan segala keluh kesah dan harapan tulusnya kepada sosok yang diharapkan akan menjadi pemimpin desanya kelak.

Dengan suara lirih bergetar dan mata berkaca-kaca, ia mengungkapkan rasa sedihnya: selama bertahun-tahun, bahkan sejak masa pandemi Covid-19 hingga kini, ia belum pernah sekalipun merasakan manfaat bantuan sosial, baik Bantuan Langsung Tunai (BLT) maupun Program Keluarga Harapan (PKH). Padahal, kondisi fisik dan ekonominya sangat membutuhkan uluran tangan pemerintah.

Air mata haru membasahi pipi keriputnya saat ia memohon dengan tulus: “Kami mohon, perhatikanlah warga yang benar-benar butuh. Jangan sampai bantuan BLT atau PKH itu justru jatuh ke tangan yang bukan haknya. Kami butuh pemimpin yang adil, yang benar-benar hadir untuk kami yang miskin dan sakit”.

Pertemuan sederhana namun sangat menyentuh ini menjadi cermin nyata, bahwa di tengah kemajuan zaman, masih banyak warga yang hidup dalam ketidakberdayaan dan sangat mendambakan kehadiran pemimpin yang peka, peduli, dan memastikan keadilan sosial benar-benar ditegakkan di desa.

Mendengar curahan hati yang begitu tulus itu, Ubudiah menyikapinya dengan wajah serius namun penuh kelembutan. Ia menegaskan dengan tegas: kepedulian sosial bukan sekadar program tambahan, melainkan harus menjadi nyawa dan prioritas utama dalam setiap kebijakan pembangunan desa. Baginya, menjadi kepala desa bukan hanya soal mengurus administrasi dan tata kelola pemerintahan, melainkan yang paling hakiki adalah hadir di tengah rakyat, mendengar derita mereka, dan memastikan setiap hak warga terpenuhi.

Ia pun menegaskan prinsip yang akan dipegang teguh: bantuan pemerintah adalah hak warga, dan harus disalurkan dengan tepat sasaran, transparan, serta akuntabel. Dana bantuan harus jatuh persis ke tangan yang paling membutuhkan: kaum lemah, lansia, orang sakit, serta keluarga yang kurang mampu, bukan kepada mereka yang sudah berkecukupan.

“Kepedulian terhadap sesama adalah tanggung jawab moral seorang pemimpin. Pemerintah desa harus hadir tanpa membedakan golongan, status, maupun hubungan kekerabatan. Yang butuh harus dibantu, yang berhak harus mendapat, dan tidak boleh ada diskriminasi sedikit pun,” ucap Ubudiah tegas.

Langkah ini bukan sekadar kampanye, melainkan pesan sosial yang menggugah hati semua pihak, mengingatkan kembali pada nilai luhur: pemimpin sejati adalah mereka yang merasakan derita rakyatnya sebagai derita sendiri.

Menjelang hari pemungutan suara, masyarakat pun diharapkan makin bijak memilih pemimpin. Jangan hanya terpesona oleh janji pembangunan fisik atau popularitas semata, melainkan lihatlah rekam jejak pengabdian, kepedulian sosial, pengalaman pelayanan, serta ketulusan hati calon dalam memperjuangkan nasib rakyat kecil.

Pilkades Patumbak Kampung 2026 ini diharapkan menjadi titik balik lahirnya kepemimpinan desa yang tidak hanya cakap dan berwibawa, tetapi juga humanis, transparan, dan mampu mengembalikan kepercayaan penuh masyarakat terhadap pemerintahan di tingkat paling akar. * B1N-Nardi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *