Medan-Beritasatunews.id | Jong Batak Arts Festival ke-12 tahun 2025 resmi dibuka Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, Kemendikbudristek, Irini Dewi Wanti, di Taman Budaya Medan, Jalan Perintis Kemerdekaan Medan, Sabtu (18/10/2025) malam.
Kemudian dilanjutkan kata sambutan oleh Pemerintah Kota (Pemko) Medan diwakili Kepala Dinas (Kadis) Pariwisata Kota Medan M. Odi Anggi Batubara.
Pagelaran Jong Batak Arts Festival ke-12 tahun 2025 dihadiri dari berbagai kalangan seniman, komunitas seni dari Kota medan maupun luar daerah seperti Pekan Baru Riau, Sulawesi, dan Surabaya.
Baca Juga : Rumah Karya Indonesia (RKI) Gelar Jong Bataks Arts Festival 2025
Di tengah guyuran hujan, rangkaian acara pembukaan dimeriahkan penampilan Tongam Sirait. Seniman musisi lokal tanah Batak, dengan membawakan lagu-lagu hits berbahasa daerah.
Pasar Raya menjadi lokasi di mana para pengunjung bisa menikmati panganan lokal maupun minuman yang menjadi tradisi khas batak, seperti Ombus-ombus dan Tuak nira, serta panganan lainnya.
Sistem pembelian pun tidak menggunakan uang. Tetapi harus menggunakan bambu yang diberi nilai rupiah.
Tuak Jadi Perhatian
Andro Nainggolan pelaku usaha tuak yang berkesempatan turut serta dalam kegitan pasar raya di JBF 2025.
“Tuak merupakan bagian dari ketahan pangan juga. Tuak bukanlah cairan untuk mabuk, tapi merupakan simbol tradisi yang sudah lama diciptakan dari rasa tanpa bahan pengawet,” ujar Andro.
Seperti diketahui, bahan dasar pembuatan tuak adalah dari pohon aren yang diolah melalui permentasi dengan kayu raru.
Lain lagi air aren/nira asli tanpa permentasi yang dapat dijadikan gula merah mauapun minuman segar yang diracik menggunakan kulit nangka.
Andro Nainggolan juga mengingatkan kepada generasi muda agar tetap menjaga tradisi daerah.
“Tetaplah menjaga tradisi dan cukup minum tuak hanya tiga gelas saja, sebab sesuatu yang berlebihan tidak bagus,” jelasnya.
Sementara itu Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, Kemendikbudristek, Irini Dewi Wanti, menyampaikan kalau Festival Jong Bataks (FJB) ini cukup keren.
“Festival Jong Batak tahun ini yang ke-12 cukup keren. FJB secara konsisten tiap tahunnya melaksanakan festival dengan tema yang berbeda. Tahun ini dengan tema pangan lokal, yang sangat menarik merupakan isu global.
Bukan hanya bicara tentang seni saja, tapi sebuah seni memiliki ekosistem di mana kita berbicara masalah pangan yang merupakan ekosistem.
Seperti kesenian ritual adat upacara, jadi di situ ada objek suatu kebudayaan yang bisa berkaitan dengan ketahanan pangan,” terang Irini.
Dia juga mengaspresiasi kegiatan bertema Pangan Lokal;Ronggurnesia – Suara dari Akar Budaya Menggema ke Masa Depan.
“Ini bukan sebagai isu global saja, sebab ketahanan pangan saat ini menjadi penuntasan nasional baik itu presiden maupun Kementerian. Tentu saya sangat mengapresiasi komunitas dengan mengangkat tema itu,” jelasnya.
Usai pembukaan JBF, rombongan tamu undangan dari Pemko Medan dan Kementerian langsung menuju beberapa pameran seni rupa dan karya seniman dari berbagai daerah.
Selanjutnya rombongan menuju ke Pasar Raya untuk melihat panganan lokal yang juga menjadi tradisi adat Batak. * B1N-MY







