Medan-Beritasatunews.id | Guna menuju dan meningkatkan mutu pendidikan 2045 dan menjadi ruang refleksi sekaligus konsolidasi gagasan bagi perbaikan pendidikan di Sumatera Utara, Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Sumatera Utara menggelar Simposium Pendidikan Sumatera Utara.
Kegiatan yang mengusung tema “Restorasi Pendidikan Sumatera Utara: Rekonstruksi Akses, Kualitas dan Keadilan Sosial Menuju Aksi Nyata Indonesia Emas 2045” berlangsung di Gedung Aula FISIF Universitas Sumatera Utara (USU) kemarin.
Acara yang digelar di kampus USU menghadirkan sejumlah tokoh nasional dan praktisi pendidikan, antara lain K.H. Muhammad Nuh (Anggota DPD RI), Prof. Restu (Praktisi Pendidikan), dan Ahmad Zaki Mubarak (Aktivis Pendidikan).
Rektor USU, Prof. Muryanto Amin, dalam sambutannya menegaskan pentingnya kolaborasi antara kampus, pemerintah, swasta, dan gerakan mahasiswa dalam menjawab tantangan pendidikan di berbagai daerah.
Menurutnya, perguruan tinggi saat ini tidak hanya menjadi pusat pengembangan ilmu, tetapi juga motor perubahan sosial.
Koordinator Daerah BEM SI Sumatera Utara, Itsqan Wafi Fauzan (yang juga menjabat sebagai Demisioner Ketua SEMA UNIMED), menyampaikan bahwa simposium ini lahir dari kegelisahan mahasiswa terhadap ketimpangan akses dan kualitas pendidikan di Sumut.
“Masih terdapat disparitas antara wilayah perkotaan dan pedesaan, baik dari sisi infrastruktur, kualitas tenaga pendidik, maupun fasilitas belajar. Ini harus menjadi perhatian bersama,” ujarnya.
Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari BEM SI melalui Koordinator Pusat, Muzammil Ihsan, yang menekankan pentingnya gerakan mahasiswa sebagai mitra kritis dan solutif pemerintah dalam menyongsong visi Indonesia Emas 2045.
Muhammad Nuh bersama Prof. Restu dan Ahmad Zaki Mubarak menyatakan bahwa pembangunan pendidikan harus berbasis data dan berorientasi pada keadilan sosial.
Mereka juga menyoroti pentingnya inovasi pembelajaran dan penguatan karakter peserta didik, serta menekankan bahwa gerakan mahasiswa harus terus mengawal kebijakan pendidikan agar berpihak pada rakyat.
Para pemateri juga mengidentifikasi berbagai persoalan utama di dunia pendidikan Sumut, yaitu:
- Akses pendidikan yang belum merata, terutama di wilayah terpencil
- Kualitas pembelajaran yang menghadapi tantangan kompetensi tenaga pendidik dan relevansi kurikulum
- Keadilan sosial dalam pendidikan, termasuk pembiayaan dan afirmasi bagi kelompok kurang mampu
Simposium Menuju Pendidikan 2045 ini diharapkan tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi melahirkan rekomendasi konkret dan aksi kolaboratif antara mahasiswa, akademisi, serta pemangku kebijakan di Sumatera Utara.
Dengan semangat restorasi, forum ini menjadi langkah awal menuju pendidikan yang lebih inklusif, berkualitas, dan berkeadilan demi terwujudnya Indonesia Emas 2045. * B1N-Dedy







