Tahun Ajaran Baru Ada Sekolah Kekurangan Murid yang Hebat Diserbu Peminat

Tahun Ajaran Baru Ada Sekolah Kekurangan Murid yang Hebat Diserbu Peminat
Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Solok, DR. Masrul, M.Pd, AIFO. (Foto: Ist)

Solok-Beritasatunewa.id | Kecenderungan para orang tua untuk menyekolahkan anaknya adalah pada sekolah terfavorit. Di tahun ajaran baru 2025 ini, mulai Taman Kanak-kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT) sekolah favorit jadi tujuan.

Animo ini diperkuat kualitas atas produk yang dihasilkan dari lulusan sekolah tersebut. Khusus Kabupaten Solok, setingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) masih didominasi Sekolah Menengah Pertama (SMP) 2 Gunungtalang, dan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) masih favoritSekolah Menengah Atas (SMA) 1 Gunungtalang.

Kebetulan kedua sekolah ini berdekatan dan terletak di Cupak, pada jalan Raya Lintas. Banyak orang tahu, bahwa para tamatannya atau alumninya banyak yang hebat-hebat.

Ini bukan menafikan jebolan sekolah lain, akan tetapi lulusan kedua sekolah tersebut hingga kini masih menjadi magnit bagi siswa baru untuk bersekolah ke sana, apalai pada tahun ajaran baru saat ini.

Selain dijubeli dalam rayon, malah di luar rayon tahun ajaran baru pun disesaki mendaftar dengan jalur prestasi, seperti Akademik, Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN), Tahfiz dan keahliannya.

Sebaliknya, jika sekolah di tahun ajaran baru ini kurang mutu (manajemen tak bagus-Red), niscaya tidak diminati, sehingga sedikit peminat siswa, artinya kekurangan murid.

Fenomena ini di Kabupaten Solok bukan tidak ada, malah sangat ada sebuah sekolah, baik tingkat Sekolah Dasar (SD) atau SMP kekurangan murid.

Sementara sekolah yang bermutu dekatnya kebanjiran murid, sehingga perlu penyeleksian untuk menyaring sesuai kebutuhan pihak manajemen sekolah.

Cerita SMP 2 Gunungtalang menjadi primadona bagi anak dan orangtuanya yang tamatan SD. Bahkan sampai demo para orangtua yang anaknya tidak terima bersekolah, dengan dalih rasis nagari tempat sekolah berada.

“Ikut serta saya Goro membangun sekolah ini…Itu tanah tempat sekolah berdiri, wakaf moyang kami,” begitulah nada tuntutan warga tempatan komplain.

Setindak berikutnya barulah semenjak kehadiran SMP Negeri 6 Gunungtalang masih di Cupak Korong Tangah Padang, sedikit tereliminasi. Karena perintis sekaligus kepala sekolahnya Ustaz H. Sakar Soeib, S.Pd, membawa pembaharuan.

Ustaz Sakar pernah jadi guru di SMP 2, ketika ia menakhodai sekolah barunya itu, dengan konsep Sekolah Umum Berbasis Pesantren (SUBP).

“Sekolah kami tanpa bel dan tanpa CCTV. Karena siswa dididik berkarakter dan berdisiplin tinggi,” bincang Ustaz Sakar pada masa itu.

Dengan berbagai kelebihan dan keunggulan tadi, sehingga terjadi kompetitif hebat dengan ‘adik bungsunya’ antara SMP 2 dan SMP 6, dalam penerimaan siswa berikut penseleksian dan penyaringan sesuai kebutuhan muatan lokal.

Hebatnya lagi, program yang digagas Ustaz Sakar diadopsi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Solok yang kala itu dipimpin Bupati Gusmal.

Rewardnya Ustaz Sakar ditarik ke Dinas Pendidikan (Disdik) promosi jabatan menjadi Kepala Bidang (Kabid) SMP, dan sering menjadi pemateri dalam konsep sekolah SUBP.

Tak cukup di situ, karena sudah menjadi program Pemda, dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sudah pasti digelontorkan untuk pembiayaan pendukung program rancak sekolah tersebut.

Tapi itu cerita semasa Bupati Gusmal, setelah Bupati Epyardi Asda terlenyapkan, entah era duet Bupati JFP Chandra punya konsep memajukan dengan program ‘Terbarukan’.

Namun dari data BPS, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) peringkat Kabupaten Solok No.17 terendah se-Sumatera Barat.

Hancurnya tiada terlepas, hengkangnya perguruan tinggi Universitas Mahaputra Muhammad Yamin (UMMY) dari bumi Kabupaten Solok, yang bertakhta megah di tengah Kota Solok.

Kembali soal sekolah favorit yang harus menyaring murid, sebaliknya ada SMP, hingga SD dan SMA di Kabupaten Solok yang sedikit murid.

Malah tragisnya, ada sekolah punya siswa di bawah 70 orang. Sementara operasionalnya hampir sama. Justru ini akan menjadi beban bagi Pemkab Solok, jikalau tidak punya brand di tengah kompetitor.

Dari percakapan penulis bersama Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Solok, DR. Masrul, M.Pd, AIFO membenarkan, bahwa memang ada SMP yang punya siswa di bawah 70 orang.

Menyikapi fenomena ini, pada setiap rapat bersama selalu diingatkan, bahwa sekolah yang dipimpin harus punya identitas. Artinya ada nilai jual, sebagaimana contoh yang telah dibuat Ustaz Sakar.

“Saya sering menyampaikan dalam rapat, untuk diminati orang carilah identitas untuk memajukan sekolah, sehingga dikejar orang,” sarannya.

Lebih jauh Doktor Masrul juga memberi konsep, setidaknya sekolah yang bernuansa Islami.

“Dengan program 3 in 1, yaitu umum, agama dan adat. Sekolah yang punya ciri spesifik, niscaya akan banyak jadi peminat. Intinya punya identitas di tengah persaingan, belum lagi hadirnya sekolah boarding yang dikelola yayasan,” tambahnya. * B1N-Ys