Oleh : Budi Sudarman
Gemerincing lonceng-lonceng kecil dari Pedel prosesi wisuda di sebuah universitas tahun 1985 itu sudah sirna ditelan waktu. Hingga kurang lebih 40 tahun kemudian muncul persoalan bahwa. Ada sang wisudawan yang diduga memiliki ijazah palsu. Namun bagi para wisudawan yang masih sehat masih tersisa kenangan indah meski usia tak lagi muda. Bahwa upacara itu memang benar adanya Hening, sakral dan khidmat.
Hening, sakral dan khidmat pada saat itu kini berganti menjadi hingar bingar politik nasional yang diulas lewat berbagai media, terlebih-lebih di warung kopi sederhana pinggir jalan. Ijazah itu menjadi sebuah bahan diskusi publik tanpa moderator dan panelis.
Ya…sebuah prosesi wisuda dalam kerangka berpikir anak-anak bangsa yang peduli ingin mempertanyakan keberadaan Joko Widodo tentang gelar akademik yang disandangnya. Semula bergelar akademik doktorandus saat menjabat Wali Kota Solo kemudian berubah menjadi insinyur. Sekaligus mempertanyakan tentang ijazahnya serta yang berkenaan dengan skripsi dan aktivitas perkuliahan di UGM.
Para pengamat dadakan warung kopi saling berargumen sesekali dtimpali “maaf ini ya ku potong” menyela pembicaraan orang lain yang baru saja mengucapkan huruf A, seolah tak ingin ketinggalan bahwa dia yang paling memahami. Masing-masing memposisikan diri bak praktisi hukum, pengamat tata negara, sudut pandang akademisi, politisi dan ahli supranatural alam ghaib.
Sosok Rismon Sianipar, Roy Suryo dan Tyfauzia adalah pribadi yang berani menyuarakan persoalan ijazah milik Presiden RI ke-7 dengan sematan gelar akademik Ir. Joko Widodo. Setelah sebelumnya Gus Nur dan Bambang Tri mempersoalkan bahwa ijazah milik Jokowi dari Universitas Gajah Mada, Yogyakarta adalah palsu. Hingga pada akhirnya Gus Nur dan Bambang Tri divonis penjara didakwa menyiarkan berita bohong tentang ijazah palsu Presiden Joko Widodo.
Bagaikan software Photoshop tak berselang lama muncul Photoshop CS2 dengan penambahan fitur dengan data dan fakta yang disajikan oleh Dr. Rismon cs. Rilis berikutnya muncul Photoshop CS 3, setelah ada statemen dari mantan Presiden RI Megawati Soekarnoputri “ya koq susah amat ya, kan kalau di ijazah betul gitu, kasih aja. Ini ijazah saya, gitu loh,” meski tak eksplisit langsung ke sosok tapi publik langsung menuju ijazah siapa itu, bagai interface ke software yang lain.
Ini adalah sebuah skandal besar Republik Indonesia jika ternyata ijazah Jokowi terbukti palsu. Tapi apa sebegitu mudahnya menyatakan palsu? tentu tidak!
Negeri ini bukan Amerika Serikat dengan skandal Bill Clinton dan Monica Lewinsky juga bukan Korea Selatan seperti kasus Presiden Yoon Suk Yeol yang dimakzulkan Mahkamah Konstitusi dan presiden Park Geun-hye yang harus mendekam di balik jeruji penjara.
Ini adalah Republik Indonesia Wak ! Sebuah negeri yang indah, penduduknya sopan santun dan ramah tamah tapi sulit mencari sosok negarawan sejati. Sosok yang menjadi panutan teladan bagi anak bangsa.
Kotak Pandora yang berisi tentang ijazah itu akan tetap berada didalamnya tanpa terusik sedikitpun. Kertas sakral yang bernama ijazah itu bagai Pedang Naga Puspa yang diwasiatkan Mpu Ranubaya agar tidak jatuh ke tangan pendekar berwatak jahat dalam serial sandiwara radio Tutur Tinular yang diputar di radio siaran swasta niaga di penghujung tahun 80-an.
Ijazah itu akan tersimpan rapi di tempatnya bagai Mummi di Mesir yang dibalsem hingga pada akhirnya kelak akan ada orang yang menguaknya sekaligus memecahkan misteri yang menyungkupnya.
Akankah kebenaran persoalan ijazah milik mantan presiden Joko Widodo akan terang benderang seterang sinar matahari tanpa tersaput awan gelap? ***







